LEPO LORUN, Kreatifitas bertapak budaya.

Berkendara  15 menit ke arah selatan kota Maumere,jalan aspal berkelok akan menghantar kita ke salah satu sentra kain tenun yang ada di kabupaten Sikka, kabupaten yang terletak di tengah pulau Flores.

_mg_9313 Lepo Lorun,ya, begitulah Alfonsa Horeng atau yang lebih akrab disapa kak Alfonsa,  leader dan pendiri  menamamakan tempat pelestarian budaya ‘nian tana’, sebutan lain untuk kabupaten Sikka. Fokus pada pelestarian ‘tenun ikat’, Lepo Lorun merupakan sekelompok ibu-ibu yang melakukan proses tenun secara bersama-sama yang dikumpulkan kak Alfonsa dari sekitar tempat tinggalnya.

_mg_9192Terdiri dari 3 bangunan utama, Rumah tamu dan galeri di bagian tengah, rumah tenun di sisi kanan dan semacam ‘home stay’ di sisi kiri, Lepo Lorun dibangun dengan dasar kayu dan batang kelapa, bambu, serta beratap alang-alang. Di depan ketiga bangunan utama terdapat halaman cukup luas dengan ikon bangku yang terbuat dari bambu. Sandarannya berupa nama dan alamat Lepo Lorun yang ditulis menggunakan cat putih diatas papan-papan kecil memanjang dengan bentuk seperti tak beraturan, namun langsung menarik minat pengunjung untuk berfoto di depannya, sebagai tanda “kami sudah pernah ke Lepo Lorun lho”.

_mg_9363Selain murni memproduksi kain tenun atau yang lebih sering dikenal dengan “tenun ikat”, Ibu-ibu disini juga membuat beberapa aksesoris seperti selendang, tas, bandana, baju terusan untuk wanita, menggunakan bahan dasar kain tenun. Kain tenun di Lepo Lorun diproses secara alami oleh tangan-tangan wanita tangguh penuh kesabaran. Mulai dari proses memintal benang, mengikat motif, mewarnai sampai menjadi kain tenun seutuhnya dengan motif-motif khas kabupaten Sikka.

_mg_9288“Kami bukan pabrik atau pedagang. Kami melakukannya untuk melestarikan budaya yang diwariskan nenek moyang kami. Jika yang kami buat mau dihargai dalam bentuk apapun, kami sangat berterimakasih. Kami membuat dengan hati, dengan penuh kesabaran dan telaten, sehingga yang kami hasilkan adalah produk seni bernilai tinggi asli dari tanah kami. Tidak ada paksaan dan tidak bisa dipastikan sebulan harus bisa menghasilkan berapa kain tenun, jadi mengalir saja”, jelas kak Alfonsa. Penjelasan yang selalu saya ingat.

_mg_9289Selain membuat kain tenun, Lepo Lorun yang dipimpin kak Alfonsa ini sudah mengelilingi banyak negara diantaranya Perancis, Ameika Serikat, Panama dan Chili, untuk memberikan seminar di kampus-kampus dan mempresentasikan proses “tenun ikat”. Salah satu kampus yang disebutkan adalah Universadad Nacional Autonoma de Mexico di Meksiko. Album-album foto perjalanan kak Alfonsa sebagai leader ke berbagai negara  disimpan di lemari berukuran sedang, di samping meja panjang yang disediakan sebagai tempat berbincang di rumah tamu Lepo Lorun.

Sentra ‘tenun ikat’ yang terletak di daerah Nita ini juga membuka diri untuk kunjungan harian untuk para wisatawan, sekedar mengetahui produk-produk yang dihasilkan atapun kunjungan beberapa hari sekaligus belajar secara garis besar pembuatan ‘tenun ikat’. “Tidak ada kelas yang kaku, semua bisa dibicarakan jika ingin. Kita bisa mengemasnya, mau sehari, 3 hari ataupun seminggu, atau lebih lama lagi juga tidak masalah. Di sini bisa kita atur sesuai kesepakatan” tandas kak Alfonsa.

Di Lepo Lorun juga disediakan ‘home stay’ yang desainnya sangat tradisional. Rumah panggung dengan dua bilik disediakan bagi siapa saja yang memilih untuk tinggal selama mengikuti kegiatan ataupun siapa saja yang tertarik  ingin menginap di komplek Lepo Lorun. Di belakang rumah panggung ini terdapat kebun kelapa dan kopi yang juga melingkari komplek Lepo Lorun sebagai pagar alami yang memisahkan tempat ini dari perumahan warga sekitar. Di sela-sela kebun kelapa terdapat kebun khusus yang digunakan untuk membudidayakan kapas, untuk menghasilkan bahan dasar benang dan beberapa tanaman seperti mengkudu, tarum dan nila yang juga digunakan sebagai pewarna  kain tenun dari Lepo Lorun.

_mg_9355Mengelilingi komplek Lepo Lorun saat pagi hari ditemani sisa embun semalam membuat pikiran menjadi tenang. Terletak diatas ketinggian dan jauh dari kota yang disesaki kendaraan bermotor membuat suasana disini begitu hening. Begitu pula malam yang hanya ditemani suara hutan, membuat malam terasa lebih panjang dan membantu kita menemukan ‘sesuatu’ disini. Tidak hanya sebagai sentra ‘tenun ikat”, Lepo Lorun dengan daya magisnya bisa menjadi tempat lahirnya ide-ide kreatif yang selalu diikuti kultur budaya lokal sebagai ciri khas. Paling tidak itulah yang diungkapkan beberapa orang yang saya temui, yang pernah berkunjung ke Lepo Lorun.

_mg_9249

_mg_9303

artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *